Famili Compositae (Asteraceae) adalah famili yang memiliki jumlah spesies yang telah terdeskripsi dan diketahui paling besar dari famili tumbuhan yang lain, yaitu lebih kurang 24.000, dan dengan jumlah total yang diperkirakan dapat mencapai 30.000 spesies. Terdiri dari 1600-1700 genus yang tersebar diseluruh dunia kecuali di Antartika. Dari 250.000 – 350.000 spesies tumbuhan berbunga yang ada di dunia maka yang muncul dari urutan spesies yang ke-8 hingga 12 adalah dari Compositae (kira-kira 10%), (Funk et al, 2011). Semua yang bekerja dalam pengelompokan tumbuhan menemukan Compositae sebagai sebuah grup yang terdiri dari beberapa tingkatan (i.e., Tournefort 1700; Berkhey 1760; Vaillant 1719-1723) dan dari setiap analisis yang telah dilakukan family ini adalah monopiletik (i.e., Small 1919; Brener 1987; Jensen dan Palmer 1987; Hansen 1991; Michaels et al. 1993; Lundberg dan Bremer 2003).

Klasifikasi terkini dari family Asteraceae seperti yang dijelaskan oleh (Funk dkk, 2009) yaitu dimana terdapat beberapa perubahan dari klasfikasi Compositae Giseke (1792) [Asteraceae Martynov (1920)]. Terdapat penambahan jumlah subfamili sebanyak sebanyak sembilan buah (9 buah) dari tujuh buah (7 buah) yang ada sebelumnya dan hanya tiga buah (3 buah) subfamili lama yang masih tetap diposisi sub famili yaitu Carduoideae, Mutisioideae dan Wunderlichioideae sedangkan empatnya (4 buah) lagi yaitu Arctotideae, Hyalideae, Senecioneae dan Wunderlichieae diturunkan ke posisi tribe, sehingga total subfamily yang ada sekarang ini adalah sebanyak dua belas buah (12 buah) dengan empat puluh tiga buah (43 buah) tribe yang bernaung di dalamnya, (Tabel 1).

Tabel 1. Klasifikasi Famili Asteraceae terkini

No Sub famili Tribe
I. Barnadesioideae (D. Don) Bremer & Jansen (1992) 1.   Barnadesieae D. Don (1830)
II. Stifftioideae (D. Don) Panero (2007) 2.* Stifftieae D. Don (1830)
III. Mutisioideae (Cass.) Lindl. (1829) 3.  Mutisieae Cass. (1819)

4. Onoserideae (Bentham) Panero & V.A. Funk(2007)

5. Nassauvieae Cass. (1819)

IV. Wunderlichioideae Panero & V.A. Funk (2007) 6.  Wunderlichieae Panero & V.A. Funk (2007)

7.* Hyalideae Panero (2007)

V. Gochnatioideae (Benth. & Hook. f.)

Panero & V.A. Funk (2002)

8. Gochnatieae (Benth. & Hook. f.) Panero & V.A.Funk (2002)
VI. Hecastocleidoideae Panero & V.A. Funk (2002) 9. Hecastocleideae Panero & V.A. Funk (2002)
VII. Carduoideae p.p. Cass. ex Sweet (1826) 10. Dicomeae Panero & V.A. Funk (2002)

11.   Oldenburgieae S. Ortiz (2009)

12.  Tarchonantheae Kostel. (1833)

13.   Cardueae Cass. (1819)

VIII. Pertyoideae Panero & V.A. Funk (2002) 14. Pertyeae Panero & V.A. Funk   (2002)

Catamixis incertae sedis

IX. Gymnarrhenoideae Panero & V.A. Funk (2002)

 

15.   Gymnarrheneae Panero & V.A. Funk (2002)
X. Cichorioideae ( Juss.) Chevall. (1828)

 

16.   Cichorieae Lam. & DC. (1806)

17.   Arctotideae Cass. (1819)

18.   Eremothamneae H. Rob. &

Brettell (1973)

19.   Liabeae (Cass. ex Dumort.) Rydb. (1927)

20.    Vernonieae Cass. (1819)

21.   Platycarpheae V.A. Funk & H.

Rob. (2009)

22.   Moquinieae H. Rob. (1994)

Heterolepis incertae sedis

XI Corymbioideae Panero & V.A. Funk (2002)

 

23.  Corymbieae Panero & V.A. Funk (2002)

 

XII Asteroideae (Cass.) Lindl. (1829)

 

24.  Senecioneae Cass. (1819)

25.  Calenduleae Cass. (1819)

26.  Gnaphalieae (Cass.) Lecoq. & Juillet (1831)

27.   Astereae Cass. (1819)

28.  Anthemideae Cass. (1819)

29.   Inuleae Cass. (1819)

30.  Athroismeae Panero (2002)

“Heliantheae alliance”

31. Feddeeae Pruski, P. Herrera, Anderb. & Franc.- Ort. (2008)

32.  Helenieae Lindl. (1829)

33.  Coreopsideae Lindl. (1829)

34.  Neurolaeneae Rydb. (1927)

35.  Tageteae Cass. (1819)

36.  Chaenactideae B.G. Baldwin (2002)

37.   Bahieae B.G. Baldwin (2002)

38.  Polymnieae (H. Rob.) Panero (2002)

39.   Heliantheae Cass. (1819)

40.  Millerieae Lindl. (1929)

41.   Madieae Jeps. (1901)

42.  Perityleae B.G. Baldwin (2002)

43.  Eupatorieae Cass. (1819)

V. A. Funk, et al (2009).

Keterangan : * = masih dalam diskusi.

Famili ini dicirikan dengan bunga-bunga yang tersusun pada receptacle di kuntumnya dengan perkembangan petal yang terpusat dan dilingkari oleh bractea. Antera yang tergabung dalam sebuah cincin dengan polen terdorong atau tertekan keluar oleh kepala putik, dan terdapat achene (cypsela) yang biasanya dengan sebuah pappus (gambar 1.1). Walaupun famili ini mudah dibedakan dengan yang lainnya, namun terdapat sejumlah besar variasi di antara anggotanya, baik itu variasi bentuk/kebiasaan tumbuhnya yang antara lain berupa herba, perdu tahunan (annual) atau yang hidup lebih dari dua tahun (perennial), tumbuhan merambat, pohon, dan ada juga yang epifit. Selain itu, ada juga pesies yang hanya hidup pada tipe habitat tertentu mulai dari hutan hingga padang rumput dataran tinggi, namun mereka kurang dijumpai di dalam naungan hutan tropis, akan tetapi lebih umum ditemukan pada areal terbuka. Kebanyakan dari kelompok famili ini merupakan spesies yang bermanfaat dan ada juga spesies yang berbahaya, demikiannya juga ada yang umum dan ada juga yang sangat sulit ditemukan (Funk et al, 2011).

Gnaphalieae adalah salah satu tribe dari sub famili Asteroideae di dalam famili Asteraceae yang yang sebelumnya digabungkan kedalam tribe Inuleae. Kira-kira 180-190 genus dari Gnaphalieae ini paling banyak terdapat di belahan bumi bagian selatan, dengan daerah biodiversitas aslinya adalah di Australia, Afrika bagian selatan, dan Amerika Selatan (Anderberg 1991a; Bayer dkk. 2007). Pemberian nama tribe ini mengacu kepada bentuk mofologi polen dari semua anggotanya yang disebut dengan “the gnaphalioid type”, dimana dinding polen (sporoderm) -nya memiliki dua lapisan ectexine yang terdiri dari satu collumellate lapis luar dan satu lapisan bawah berbentuk anyaman tak beraturan.

Anderberg (1991) meletakkan Anaphalis dan Anaphalioides ke dalam sub tribe terbaru yaitu Cassiniinae, beranggotakan genus-genus yang memiliki pembagian synapomorphies dalam hal memiliki rambut pappus yang clavate (tidak acute) pada bagian apex,  dan fruescent. Genus yang termasuk ke dalam sub tribe ini adalah Anaphalis, Antennaria, genus Anaphaloides dari Australia, Ewartia, Ewartiothamnus (=Ewartia sinclairii), Raoulia, Ozothamnus, Ixodia, dan Odixia, genus Gnaphaliothamnus dari Amerika dan Chionolaena, dan genus Petalacte dari Afrika, Anaxeton, dan Langebergia. Sub tribe ini tersebar di seluruh dunia akan tetapi genus dan spesies terbanyak terdapat di Australia.

Di Asia Tenggara termasuk New Guinea, hanya terdapat 6 spesies Anaphalis antara lain yaitu Anaphalis javanica, Anaphalis longifolia, Anaphalis maxima, Anaphalis viscida, Anaphalis helwigii, Anaphalis arfakensis. Jenis Anaphalis javanica dan Anaphalis longifolia adalah grup yang berdekatan dengan bentuk morfologi yang hampir serupa. Diperkirakan bahwa A. javanica taksonnya berdekatan dengan taxon yang terdapat di Sri Langka. Namun ia sudah jelas berbeda sekali dengan spesies yang dari New Guinea seperti A. hellwigii dan A. arfakensis.  Refisi terakhir adalah bahwa A. mariae and A. papuana sudah dipindahkan ke dalam genus Anaphalioides, sedangkan A. nouhuysii adalah sinonim dari A. mariae yang mana telah menjadi Anaphalioides mariae. Selain itu A. lorentzii adalah sinonim A. hellwigii. A. japonica yang pernah diidentifikasi terdapat di Indonesia berkemungkinan adalah merupakan kesalahan dalam mengidentifikasi dan malahan nama ini tidak digunakan lagi didalm genus ini sekarang. (Ze-Long 2011 pers. com.).

Betham & Hooker (1873, p. 303) menjelaskan genus Anaphalis berdasarkan kepada sifatnya yang subdioeceus. Sifat subdioeceus atau Subdeoesy dapat diartikan sebagai perbedaan pada rasio dari bunga betina dengan bunga yang memiliki dua kelamin (bisexual) pada capitula, seperti pada beberapa tumbuhan, capitulanya hanya memiliki sedikit bunga hermaprodit sedangkan yang beberapa tumbuhan lainnya malahan bunga hermaproditnya yang dominan. Beauverd (1913) setelah mengamati spesimen Anaphalis yang ada di Yunnan, mendapati bahwa semua achene dari bunga hermaprodit Anaphalis adalah sretil, baik itu pada capitula yang didominasi oleh bunga betina ataupun yang didominasi oleh bunga hermaprodit. Ia percaya kalau ini adalah karakter utama yang membedakan antara Anaphalis dengan genus-genus lain yang termasuk kedalam tribe Gnaphalieae (kecuali dengan Erwartia).

About these ads

About edelweisssumatra

Saya seorang peneliti muda dan baru saja menamatkan studi di Program Studi Biologi Pascasarjana Universitas Andalas, Padang Sumatera Barat. Saya tertarik pada bidang Taksonomi Tumbuhan Tngkat Tinggi dan sekarang sedang mencoba mengamati fenomena hidup si Edelweiss di Sumatera Barat. Akan sangat menarik ketika bisa mengkajinya lebih dalam dan dengan cakupan area yang lebih luas. Oleh karena itu besar harapan saya jika ada dari rekan-rekan yang juga tertarik dan mau berbagi ilmu dan pengalaman bersama saya.

9 responses »

  1. lumos mengatakan:

    assalammualaykum,,,mas taufiq, saya boleh tau referensi judul bukunya untuk pustaka…saya mahasiswa biologi undip yang juga ambil riset tentang edelweiss…tapi wat skripsi sih, tentang karakteristik ekologis n kemelimpahan di gunung lawu…
    dibalas ya mas.. terimakasih, salam kenal, putri :D

    • edelweisssumatra mengatakan:

      waalaikumsalam, Maaf baru bisa dibalas..,wah mantap itu, “puncak hargo dumilah” ya. Belum adanya penelitian di Indonesia khusus mengenai tumbuhan ini, merupakan suatu kendala buat kita dalam memulai penelitian. Namun untuk informasi dasar ini saya ambil dari buku yang dikirimkan seorang Prof. di USA: Vicki A. Funk, Susanna, A., Stuessy, T.F., Robinson, H. 2009. Systematics, Evolution, and Biogeography of Compositae. Chapter 11, Classification of Compositae. International for Plant Taxonomy, Institute of Botany, University of Vienna, Austria. Kenalan saya dari Cina juga menyarankan untuk membaca jurnal: Glenny, D. 1997. A revision of the genus Anaphalioides (Asteraceae: Gnaphalieae). New Zealand journal of Botany 35: 451-477. dan Glenny, D., S. Wagstaff. 1997. Evolution and biogeography of New Zealand Anaphalis (Asteraceae): Gnaphalieae) inferred from rDNA sequences. New Zealand Journal of Botany 35: 441-449. The Royal Society of New Zealand. informasi diatas juga sudah dimuat dalam skripsi S1 saya: Taufiq, A. 2009. Studi Taksonomi Edelweiss (Anaphalis spp.) di Sumatera Barat. Skripsi Sarjana Biologi. Universitas Andalas. Semoga dapat membantu dan salam kenal kembali.

  2. nissa mengatakan:

    nice blog post.. Mayan nih belajar biologi lagi.. Cemungudh eeaaa

  3. Aadrean mengatakan:

    Mantap Benk!.
    Sedikit saran, bagusnya artikel ini dibagi-bagi menjadi tiga atau lebih artikel. Dengan info singkat dan bahasa yang sederhana, menurut wak seperti itulah cocoknyo karakteristik artikel di blog.

    Lanjutkan….!

    • edelweisssumatra mengatakan:

      setuja Jo, mokasih sarannyo.
      Masalah nyo kini adolah ketersediaan waktu yg sgt minim tuak mautak-atik n memberikan beberapa persen of porsi pemikiran wak ka blog ko se kini ko nyo jo (alias masih asal-asalan). Apo lai kini wak sadang tesis bana. ngarati lah senior maahh..beko klu lah slasai wak usaoan agar blog ko bisa lebih baik dari yg skrang.

  4. nissa mengatakan:

    hahaha… Mayan itu nama suku (-__-!!)
    Blog nissa isinya curcolan aja, gak ilmiah.. Ini mohon belajar di blog ini.. Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s